Antrean BBM Mengular di Palangka Raya, Warga Menunggu Sampai Malam

News93 Views

Antrean BBM Mengular di Palangka Raya, Warga Menunggu Sampai Malam Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menjadi perhatian publik setelah warga rela menunggu berjam jam demi mendapatkan bahan bakar minyak. Kendaraan roda dua dan roda empat terlihat mengular di beberapa titik, bahkan sebagian antrean sampai memakan badan jalan. Situasi ini membuat aktivitas warga terganggu, mulai dari pekerja, mahasiswa, pedagang, pengemudi angkutan, sampai orang tua yang membutuhkan kendaraan untuk mengantar anak sekolah.

Antrean Panjang Terlihat di Banyak SPBU

Kondisi antrean BBM di Palangka Raya tidak hanya terjadi di satu stasiun pengisian. Pada Kamis malam, 7 Mei 2026, antrean dilaporkan terjadi di sejumlah SPBU, antara lain Jalan Imam Bonjol, Jalan Yos Sudarso, Jalan G Obos, Jalan S Parman, Jalan Murjani, Jalan RTA Milono, hingga Jalan Soekarno. Kendaraan warga mengular dari area SPBU sampai keluar ke jalan umum, membuat arus kendaraan lain ikut tersendat.

Pemandangan seperti ini membuat warga harus mengatur ulang waktu harian. Mereka tidak bisa lagi datang ke SPBU hanya beberapa menit, mengisi tangki, lalu langsung melanjutkan kegiatan. Banyak warga harus menyiapkan waktu khusus hanya untuk memperoleh BBM. Sebagian datang sejak sore, tetapi baru mendapat giliran saat malam tiba.

Di SPBU Jalan Soekarno, kendaraan roda dua dan roda empat masih terlihat berderet pada Kamis malam. Sejumlah warga mengaku harus menunggu lama demi mendapatkan bahan bakar untuk kebutuhan esok hari. Situasi tersebut membuat lokasi sekitar SPBU ramai, sementara warga tetap bertahan karena pilihan lain makin terbatas.

Warga Menunggu Dua Sampai Empat Jam

Keluhan warga muncul karena waktu antre dinilai terlalu panjang. Salah seorang pengendara roda empat bernama Husni mengaku sudah sekitar dua jam menunggu di SPBU Jalan Soekarno, tetapi antreannya belum banyak bergerak. Warga lain bernama Natalia datang sejak sekitar pukul 16.30 WIB karena khawatir tidak mendapatkan BBM untuk mengantar anak sekolah keesokan pagi.

Di SPBU Jalan RTA Milono, seorang warga bernama Alvian mengaku mulai mengantre sekitar pukul 16.00 WIB dan baru selesai mengisi BBM sekitar pukul 19.04 WIB. Ia menyebut BBM sulit ditemukan, baik Pertamax maupun Pertalite, sehingga tetap memilih mengantre meski waktu tunggunya sangat lama.

Mahasiswi bernama Rindiani juga mengalami hal serupa. Ia mengaku ikut mengantre karena bahan bakar sepeda motornya hampir habis untuk keperluan kuliah. Saat ditemui sekitar pukul 19.13 WIB, posisinya masih berada di tengah antrean kendaraan roda dua. Ia juga sempat mencari ke SPBU lain, tetapi kondisinya tidak jauh berbeda.

BBM Eceran Sulit Ditemukan

Kondisi antrean makin dirasakan berat karena sebagian warga mengaku sulit mendapatkan BBM eceran di pinggir jalan. Biasanya, ketika antrean SPBU terlalu panjang, sebagian pengendara memilih membeli bensin eceran meski harganya lebih tinggi. Namun pada periode antrean ini, pilihan tersebut tidak selalu tersedia.

Alvian menyampaikan bahwa BBM eceran sulit ditemukan, sehingga ia tidak punya banyak pilihan selain ikut antre di SPBU. Rindiani juga mengatakan tidak menemukan BBM eceran saat motornya hampir kehabisan bahan bakar. Kondisi ini menunjukkan tekanan yang dialami warga bukan hanya berada di antrean SPBU, tetapi juga pada terbatasnya pilihan pengisian di luar SPBU resmi.

Bagi warga yang bekerja dengan kendaraan, kondisi tersebut sangat mengganggu. Ojek online, pedagang, pengantar barang, pekerja swasta, sampai pengemudi angkutan membutuhkan BBM setiap hari. Jika bahan bakar tidak tersedia tepat waktu, penghasilan dan jadwal kerja mereka ikut terganggu.

Antrean Memakan Badan Jalan

Antrean kendaraan di sekitar SPBU tidak hanya membuat warga kelelahan menunggu, tetapi juga mengubah kondisi lalu lintas. Antara melaporkan bahwa jalan di sekitar SPBU yang memiliki tiga lajur dapat menyempit menjadi satu lajur karena dua lajur lainnya dipakai kendaraan warga yang mengantre BBM. Kondisi ini membuat kendaraan lain harus melintas lebih pelan.

Situasi seperti itu dapat menambah kemacetan di kawasan perkotaan. Palangka Raya sebagai ibu kota provinsi memiliki aktivitas harian yang padat, terutama di ruas jalan utama. Bila antrean SPBU terjadi pada jam pulang kerja atau malam hari, arus kendaraan di sekitar lokasi akan semakin lambat.

Pengelola SPBU juga berada dalam tekanan besar. Mereka harus mengatur kendaraan yang masuk, memastikan dispenser bekerja, menjaga ketertiban antrean, dan melayani warga yang sudah menunggu lama. Tanpa pengaturan yang rapi, antrean bisa memicu saling serobot atau keributan kecil di lapangan.

Pemko Palangka Raya Gelar Rapat dengan Pertamina

Pemerintah Kota Palangka Raya bergerak setelah antrean panjang terjadi di berbagai SPBU. Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, menyebut telah ada rapat bersama antara Pemkot, Forkopimda, Pertamina, dan pengelola SPBU untuk mencari langkah cepat mengurai antrean. Dari rapat itu, Pertamina disebut memastikan penambahan pasokan Pertamax menjadi 205 kiloliter per hari dari pasokan sebelumnya 170 kiloliter per hari.

Fairid menjelaskan bahwa kebutuhan normal Pertamax di Palangka Raya berada di angka 190 kiloliter per hari. Pada dua hari awal Mei, stok yang terkirim disebut hanya 150 kiloliter per hari, kemudian dibantu depo Banjarmasin sehingga meningkat menjadi 170 kiloliter per hari. Setelah rapat, angka pasokan Pertamax dinaikkan lagi menjadi 205 kiloliter per hari.

Pemerintah kota juga meminta agar SPBU memaksimalkan semua dispenser pengisian yang tersedia. Langkah ini dibutuhkan karena antrean bukan hanya soal jumlah pasokan, tetapi juga kecepatan layanan di titik pengisian. Bila semua alat pengisian aktif, kendaraan dapat dilayani lebih cepat.

Jam Operasional SPBU Diperpanjang

Salah satu langkah yang diambil untuk mengurangi antrean adalah memperpanjang jam operasional SPBU. Wali Kota Fairid Naparin menyebut seluruh SPBU diwajibkan beroperasi mulai pukul 06.00 WIB sampai pukul 01.00 WIB. Selain itu, ada tambahan SPBU yang disiapkan untuk beroperasi 24 jam.

Perpanjangan jam layanan memberi peluang warga mengisi BBM di luar jam padat. Dengan jam operasional lebih panjang, antrean diharapkan tidak menumpuk pada waktu tertentu. Warga yang tidak harus mengisi pada sore atau malam bisa memilih waktu lain agar sebaran antrean lebih merata.

Pertamina juga menginstruksikan SPBU di Palangka Raya untuk beroperasi 24 jam penuh sebagai respons atas keluhan warga. Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Isfahani, menyebut langkah ini diambil agar masyarakat tidak merasa harus berebut mengisi BBM pada jam tertentu.

Pertamina Sebut Stok BBM Aman

Di tengah antrean panjang, Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan menyampaikan bahwa stok BBM di Kalimantan Tengah dan Palangka Raya berada dalam kondisi aman. Isfahani menyebut stok Pertamax tersedia 1.172.000 liter, Pertalite lebih dari 3.300.000 liter, dan Biosolar 2.179.000 liter dengan cakupan minimal 11 hari.

Pernyataan ini menjadi penting karena warga di lapangan merasa kesulitan mendapatkan BBM. Bagi masyarakat, ukuran aman bukan hanya angka stok di depo atau jalur distribusi, tetapi juga ketersediaan langsung di SPBU saat mereka datang mengisi. Karena itu, penyaluran dari titik pasok menuju SPBU menjadi bagian yang sangat menentukan.

Pertamina juga menyebut simulasi pengiriman kargo sudah terencana. Artinya, perusahaan memastikan suplai berikutnya terus berjalan sesuai jadwal. Namun selama antrean masih terlihat, warga tetap membutuhkan bukti langsung berupa layanan SPBU yang lebih cepat dan pasokan yang hadir stabil di semua titik.

Lonjakan Permintaan Pertamax Jadi Sorotan

Pertamina menyebut antrean panjang di Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir dipicu meningkatnya permintaan terhadap Pertamax. Isfahani menyampaikan hal itu saat memberikan keterangan bersama Gubernur Kalteng Agustiar Sabran, Forkopimda, dan awak media pada Sabtu malam, 9 Mei 2026.

Menurut Pertamina, persoalan utama bukan pada Pertalite atau Solar, melainkan tingginya permintaan Pertamax. Pertamax sendiri merupakan BBM nonsubsidi yang penyalurannya diperuntukkan bagi masyarakat umum. Ketika permintaan naik tajam, SPBU yang biasanya mampu melayani secara normal dapat mengalami penumpukan kendaraan.

Lonjakan permintaan ini bisa membuat antrean bergerak seperti efek berantai. Saat warga melihat SPBU ramai, kekhawatiran kehabisan BBM dapat mendorong lebih banyak orang datang lebih awal. Akibatnya, antrean bertambah panjang, meskipun pasokan secara keseluruhan disebut masih tersedia.

Pemko Imbau Warga Tidak Membeli Berlebihan

Pemerintah Kota Palangka Raya juga mengimbau warga agar tidak membeli BBM secara berlebihan karena khawatir kehabisan. Tim gabungan Pemko memasang spanduk imbauan di kawasan SPBU agar masyarakat tetap tenang dan tidak memperparah antrean. Pemko juga menyampaikan bahwa stok BBM dipastikan aman berdasarkan keterangan Pertamina.

Imbauan seperti ini diperlukan karena kepanikan warga dapat memperpanjang antrean. Ketika masyarakat membeli BBM lebih banyak dari kebutuhan harian, aliran pasokan di SPBU dapat terganggu. Warga yang benar benar membutuhkan bahan bakar pada saat itu justru harus menunggu lebih lama.

Namun, imbauan saja tidak cukup jika warga masih melihat antrean di lapangan. Kepercayaan publik biasanya pulih ketika antrean benar benar berkurang, stok tersedia merata, dan pengisian tidak lagi membutuhkan waktu berjam jam. Karena itu, komunikasi harus berjalan seiring dengan perbaikan layanan nyata.

Antrean Mulai Terurai di Beberapa Titik

Setelah ada penambahan pasokan dan perubahan jam layanan, antrean mulai menunjukkan tanda berkurang di beberapa lokasi. Di SPBU Jalan G Obos, seorang warga bernama Tatak masih harus menunggu lebih dari dua jam, tetapi menyebut kondisi sudah agak lebih baik dibanding hari sebelumnya. Sementara itu, warga lain bernama Hikmah mengatakan antrean di SPBU Jalan Imam Bonjol mulai lebih cepat, sekitar 20 menit.

Perbedaan waktu antre antar lokasi menunjukkan bahwa pemulihan belum merata. Ada SPBU yang sudah bergerak lebih cepat, tetapi ada juga yang masih dipadati kendaraan. Hal ini bisa dipengaruhi lokasi, jumlah dispenser aktif, waktu kedatangan warga, dan jenis BBM yang tersedia saat itu.

Pemulihan antrean tidak bisa hanya dilihat dari satu titik. Selama masih ada SPBU yang ramai parah, warga akan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Perpindahan itu dapat menciptakan kepadatan baru di SPBU yang sebelumnya lebih lengang.

Aktivitas Warga Ikut Terganggu

Antrean BBM yang berlangsung lama sangat terasa bagi warga yang bergantung pada kendaraan. Mahasiswa harus memastikan motor bisa dipakai ke kampus. Orang tua perlu bensin untuk mengantar anak sekolah. Pedagang perlu kendaraan untuk membeli bahan dagangan atau mengantar barang. Pekerja harian juga membutuhkan kendaraan agar tidak terlambat.

Di Palangka Raya, warga yang mengantre bukan hanya satu kelompok tertentu. Antara mencatat pegawai negeri, pegawai swasta, pedagang, pengusaha angkutan, hingga ojek online turut harus menunggu berjam jam untuk memastikan kendaraan mereka terisi BBM.

Kondisi ini membuat BBM terlihat sebagai kebutuhan harian yang sangat menentukan pergerakan kota. Ketika pasokan di SPBU terasa tersendat, urusan kecil warga ikut berubah. Jadwal kerja, waktu belajar, perjalanan keluarga, sampai layanan transportasi dapat terganggu hanya karena tangki kendaraan belum terisi.

Pengawasan di SPBU Perlu Diperkuat

Saat antrean panjang terjadi, pengawasan lapangan menjadi sangat penting. Petugas perlu memastikan antrean berjalan tertib, tidak ada pengisian berulang yang tidak wajar, dan kendaraan benar benar dilayani sesuai urutan. Di sisi lain, pengelola SPBU harus menjaga agar alat pengisian berfungsi optimal.

Pengawasan juga diperlukan agar warga tidak saling curiga. Dalam situasi antrean panjang, isu tentang stok habis, pengisian tidak merata, atau kendaraan tertentu didahulukan dapat cepat menyebar. Jika informasi tidak dikelola, suasana di lapangan bisa semakin tegang.

Pemerintah daerah, kepolisian, dan Pertamina perlu hadir dengan penjelasan terbuka. Warga perlu mengetahui SPBU mana yang buka 24 jam, jenis BBM apa yang tersedia, dan kapan pengiriman berikutnya masuk. Informasi yang jelas dapat membantu warga memilih waktu pengisian tanpa menumpuk di jam yang sama.

Palangka Raya Menunggu Layanan Kembali Lancar

Antrean BBM di Palangka Raya memperlihatkan bahwa ketersediaan bahan bakar tidak hanya ditentukan oleh jumlah stok, tetapi juga distribusi, pola permintaan, jam layanan, dan kepercayaan warga. Pertamina menyebut stok aman, pemerintah kota memastikan ada penambahan pasokan, sementara warga masih menilai keadaan dari panjang pendeknya antrean di SPBU.

Langkah penambahan Pertamax menjadi 205 kiloliter per hari, perluasan jam operasional, layanan 24 jam di sejumlah SPBU, dan imbauan agar warga tidak membeli berlebihan menjadi rangkaian upaya yang sedang dijalankan. Kini perhatian warga tertuju pada hasil di lapangan, terutama apakah antrean benar benar berkurang dan pengisian BBM kembali berlangsung wajar.

Bagi masyarakat Palangka Raya, keadaan paling dibutuhkan adalah kepastian. Mereka tidak ingin menghabiskan sore sampai malam hanya untuk mengisi tangki kendaraan. Mereka membutuhkan BBM tersedia saat diperlukan, antrean bergerak tertib, dan SPBU melayani dengan waktu yang lebih masuk akal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *